SELAMAT DATANG DIBLOG CV CIPTA NUSA CONTRACTOR

Kamis, 25 November 2010

TIPS 4 KONSEP RUMAH SEHAT

Konsep rumah sehat selama ini identik dengan apa yang dinamakan estetika, aman, nyaman dan fungsional.
Estetis dalam arti indah, cantik dipandang mata, memiliki nilai seni. Fungsional berarti sesuai dengan fungsinya sebagai hunian, tempat tinggal, tempat bernaung. Aman dalam arti struktur yang matang dalam perhitungan. Idiomatika “nyaman” sementara ini masih berkutat dan rancu dalam fungsionalisasi. Masih sedikit arsitek yang mendefinisikan nyaman  sebagai artikulasi yang disebut sehat, kesehatan, healthy. Segi kesehatan selama ini sering dilupakan, dan dianggap sebagai second images.

Untuk menentukan rancangan rumah yang sesuai dengan seluruh aspek konsep, peran arsitek dibutuhkan sebagai mediator, yang seharusnya disejajarkan dengan peran calon penghuni yang mempunyai kesadaran akan kesehatan.

Konsep rumah sehat terdiri atas beberapa aspek :
  1. Luas lantai : luas lantai minimal yang memenuhi syarat kesehatan dihitung dengan rumus : kebutuhan udara segar bagi tiap orang perjam (yakni 15m3) yang dibagi dengan tinggi rata-rata plafon rumah (± 2,5 m), kebutuhan lantai untuk sirkulasi sebesar 20% sehingga luas lantai yang dibutuhkan adalah 7,2 m3. Juga disyaratkan luas bangunan yang baik adalah maksimal 60% dari luas total tanah.
  2. Sirkulasi udara dan pencahayaan (cross ventilation) harus bebas masuk ke bangunan, ventilasi silang diatas langit-langit  atau dibawah penutup atap berguna sebagai pereduksi intensitas radiasi dan sebagai sirkulasi udara, bukaan jendela dan lubang angin diatas jendela berfungsi menurunkan kelembaban udara dan mengatur suhu ruangan.
  3. Bahan bangunan yang harus dipilih mempertimbangkan kesehatan berdasarkan refleksi termal dan konduksi termal, khususnya pada bahan dinding dan penutup atap. Sebaiknya dipakai bahan dengan angka refleksi termal yang tinggi dan angka konduksi yang rendah. Sebagai contoh, angka refleksi termal untuk bahan  genteng tanah liat 53%; batako 47%; asbes semen 20%; seng 10%; bata 30%. Angka konduksi untuk genteng tanah liat 0,836 w/moK; batako 1,154 w/moK; asbes semen 0,3 w/moK; seng 211 w/moK; dan bata 0,807 w/moK.
  4. Sanitasi, saluran drainase dan pembuangan air limbah. Sistem sanitasi berkaitan erat dengan sumber dan distribusi air bersih. Sistem drainase terdiri atas bawah permukaan dan atas permukaan, selain dibuat saluran drainase yang baik perlu dibuat sumur peresapan air hujan atau biopori, penanaman tanaman juga bearfungsi sebagai pengendali air tanah. Sistem pembuangan air limbah, jarak minimal septictank dengan sumur air bersih adalah 10 meter juga dibuatkan saluran pemipaan yang menyangkut dimensi dan jalur serta bak control setiap jarak 3 meter. Ukuran tangki septictank individu adalah panjang 1,5m lebar 0,75m kedalaman 1,8m.
  5. Lansekap yakni sistem pertanaman yang berkaitan erat dengan sirkulasi udara bersih, kebisingan serta pencemaran udara.
  6. Peletakan barang-barang elektronik yang berkaitan dengan interior desain.  Barang elektronik pada umumnya mempunyai intesitas radiasi yang dapat mengganggu kesehatan, sehingga harus diberikan batas perlindungan, misalnya didekat dinding sebagai absorbs radiasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar